KERINCI, JAMBI — (11-13)Peluang bisnis kopi Kerinci semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap kopi yang berkualitas, terlacak, dan berkelanjutan. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mengubah cara budidaya dan membangun rantai bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani tanpa mengorbankan hutan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan kopi agroforestri yang dimoderatori Pebriyansah dan menghadirkan lima narasumber, yakni .Surip Mawardi, Agung Wibowo, Bang Day dari KKI WARSI, Ariansyah, dan Suryono selaku CEO ALKO.
Diskusi tersebut mempertemukan perspektif penelitian dan budidaya kopi, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan pemerintah, serta dunia usaha. Benang merahnya sama: masa depan kopi Kerinci membutuhkan perubahan dari kebun hingga pasar.
Peneliti kopi Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. menekankan bahwa pengembangan kopi tidak boleh dilakukan berdasarkan asumsi.
“Belum tentu masalahnya keragaan, belum tentu tanam, belum tentu market. Yang bisa menjawab adalah data,” ujar Surip.
Menurut dia, data diperlukan untuk mengetahui persoalan sebenarnya di tingkat kebun, termasuk produktivitas, kondisi tanaman, varietas, dan peluang pasar.
Ia juga mendorong petani melihat kopi sebagai investasi jangka panjang. Kebun yang dikelola dengan baik bukan hanya menghasilkan panen, tetapi dapat menjadi aset ekonomi keluarga.
Pak Agung menyoroti pentingnya agroforestri sebagai pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan.
Pengembangan kopi, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengejar jumlah tanaman, tetapi juga mempertahankan tanaman kehutanan dan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi.
“Agroforestri harus mampu menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” menjadi garis besar pandangannya.
Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.
Dari perspektif masyarakat dan kawasan hutan, Bang Day dari KKI WARSI menekankan pentingnya perencanaan secara partisipatif.
Setelah masyarakat memperoleh akses melalui perhutanan sosial, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dikelola dan menghasilkan manfaat nyata.
Potensi ekonomi perlu diidentifikasi, baik di dalam maupun di sekitar kawasan.
“Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, hutan juga terancam,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi.
Karena itu, kopi dapat dikembangkan bersama tanaman kayu, buah-buahan dan komoditas lainnya sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.
Dari sisi pemerintah, Ariansyah menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi sekaligus memberdayakan petani.
Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter petani dan komoditas yang berbeda. Di wilayah barat Jambi, kopi telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.
Pengembangannya perlu didukung melalui praktik pertanian berkelanjutan, termasuk Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).
Dukungan pemerintah, menurut Ariansyah, tidak cukup berupa bantuan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan, kelembagaan, pembiayaan dan akses pasar.
Sementara itu, CEO ALKO Suryono membawa diskusi pada hubungan antara bisnis, keberlanjutan dan pasar global.
“ALKO dalam berbisnis ingin melindungi alam dan memberdayakan masyarakat,” kata Suryono.
Ia menilai perempuan memiliki peran besar dalam rantai kopi, mulai dari penanaman hingga sortasi. Namun, keterlibatan tersebut harus ditingkatkan dari sekadar tenaga kerja menjadi bagian dari manajemen.
“Perempuan jangan hanya jadi buruh, tapi harus ikut dalam manajemen,” ujarnya.
Menurut Suryono, pemberdayaan perempuan, masyarakat, perlindungan lingkungan dan traceability dapat menjadi kekuatan bisnis ketika kopi masuk ke pasar internasional.
Diskusi yang dimoderatori Pebriyansah menemukan satu kesimpulan utama: masa depan kopi Kerinci tidak cukup dibangun hanya dengan meningkatkan produksi.
Kopi harus memiliki produktivitas, kualitas, sistem agroforestri, kelembagaan petani, traceability, serta akses pasar yang kuat.
Peluang pasar tersebut mulai terlihat dari perkembangan ekspor kopi Kerinci. Pada Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kerinci 2026, sebanyak 7 ton kopi dilepas ke Kanada dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan 7 ton lainnya ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar. PT ALKO juga menandatangani MoU dengan Royal Coffee dari Amerika Serikat untuk rencana ekspor dua kontainer pada Oktober dan November 2026.
Pebriyansah menilai tantangan terbesar ke depan bukan sekadar bagaimana menanam kopi lebih banyak, tetapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap kopi.
“Kita tidak bisa lagi melihat kopi hanya sebagai tanaman. Kopi adalah bagian dari ekosistem yang menghubungkan petani, hutan, teknologi, perempuan, perusahaan dan pasar,” ujar Pebriyansah.
Karena itu, perubahan harus dilakukan bersama. Petani meningkatkan produktivitas, pendamping memperkuat kapasitas masyarakat, pemerintah membangun kebijakan dan ekosistem, perusahaan membuka pasar, sementara teknologi memastikan proses produksi dapat ditelusuri dan memberikan nilai tambah.
Pada akhirnya, keberhasilan kopi agroforestri Kerinci bukan hanya diukur dari jumlah kopi yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi kembali kepada petani, seberapa kuat masyarakat diberdayakan, dan seberapa baik hutan tetap terjaga.
Kopi Kerinci pun berpeluang berkembang bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi menjadi model bisnis agroforestri yang mempertemukan ekonomi, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat untuk menghadapi pasar global.