Kopi Agroforestri Kerinci Buka Peluang Bisnis, Lima Narasumber Soroti Produktivitas hingga Pasar Global

Admin Alko | 14/09/2026


KERINCI, JAMBI — (11-13)Peluang bisnis kopi Kerinci semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap kopi yang berkualitas, terlacak, dan berkelanjutan. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mengubah cara budidaya dan membangun rantai bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani tanpa mengorbankan hutan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan kopi agroforestri yang dimoderatori Pebriyansah dan menghadirkan lima narasumber, yakni .Surip Mawardi, Agung Wibowo, Bang Day dari KKI WARSI, Ariansyah, dan Suryono selaku CEO ALKO.

Diskusi tersebut mempertemukan perspektif penelitian dan budidaya kopi, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan pemerintah, serta dunia usaha. Benang merahnya sama: masa depan kopi Kerinci membutuhkan perubahan dari kebun hingga pasar.

Produktivitas Harus Dimulai dari Data

Peneliti kopi Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. menekankan bahwa pengembangan kopi tidak boleh dilakukan berdasarkan asumsi.

“Belum tentu masalahnya keragaan, belum tentu tanam, belum tentu market. Yang bisa menjawab adalah data,” ujar Surip.

Menurut dia, data diperlukan untuk mengetahui persoalan sebenarnya di tingkat kebun, termasuk produktivitas, kondisi tanaman, varietas, dan peluang pasar.

Ia juga mendorong petani melihat kopi sebagai investasi jangka panjang. Kebun yang dikelola dengan baik bukan hanya menghasilkan panen, tetapi dapat menjadi aset ekonomi keluarga.

Agroforestri Jadi Jalan Tengah

Pak Agung menyoroti pentingnya agroforestri sebagai pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan.

Pengembangan kopi, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengejar jumlah tanaman, tetapi juga mempertahankan tanaman kehutanan dan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi.

“Agroforestri harus mampu menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” menjadi garis besar pandangannya.

Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.

Perhutanan Sosial Harus Menghasilkan Nilai Ekonomi

Dari perspektif masyarakat dan kawasan hutan, Bang Day dari KKI WARSI menekankan pentingnya perencanaan secara partisipatif.

Setelah masyarakat memperoleh akses melalui perhutanan sosial, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dikelola dan menghasilkan manfaat nyata.

Potensi ekonomi perlu diidentifikasi, baik di dalam maupun di sekitar kawasan.

“Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, hutan juga terancam,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi.

Karena itu, kopi dapat dikembangkan bersama tanaman kayu, buah-buahan dan komoditas lainnya sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.

Pemerintah Perlu Memperkuat Ekosistem

Dari sisi pemerintah, Ariansyah menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi sekaligus memberdayakan petani.

Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter petani dan komoditas yang berbeda. Di wilayah barat Jambi, kopi telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.

Pengembangannya perlu didukung melalui praktik pertanian berkelanjutan, termasuk Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Dukungan pemerintah, menurut Ariansyah, tidak cukup berupa bantuan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan, kelembagaan, pembiayaan dan akses pasar.

Pemberdayaan Perempuan Jadi Kekuatan Bisnis

Sementara itu, CEO ALKO Suryono membawa diskusi pada hubungan antara bisnis, keberlanjutan dan pasar global.

“ALKO dalam berbisnis ingin melindungi alam dan memberdayakan masyarakat,” kata Suryono.

Ia menilai perempuan memiliki peran besar dalam rantai kopi, mulai dari penanaman hingga sortasi. Namun, keterlibatan tersebut harus ditingkatkan dari sekadar tenaga kerja menjadi bagian dari manajemen.

“Perempuan jangan hanya jadi buruh, tapi harus ikut dalam manajemen,” ujarnya.

Menurut Suryono, pemberdayaan perempuan, masyarakat, perlindungan lingkungan dan traceability dapat menjadi kekuatan bisnis ketika kopi masuk ke pasar internasional.

Dari Kebun Kerinci ke Pasar Global

Diskusi yang dimoderatori Pebriyansah menemukan satu kesimpulan utama: masa depan kopi Kerinci tidak cukup dibangun hanya dengan meningkatkan produksi.

Kopi harus memiliki produktivitas, kualitas, sistem agroforestri, kelembagaan petani, traceability, serta akses pasar yang kuat.

Peluang pasar tersebut mulai terlihat dari perkembangan ekspor kopi Kerinci. Pada Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kerinci 2026, sebanyak 7 ton kopi dilepas ke Kanada dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan 7 ton lainnya ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar. PT ALKO juga menandatangani MoU dengan Royal Coffee dari Amerika Serikat untuk rencana ekspor dua kontainer pada Oktober dan November 2026.

Tantangan Berikutnya adalah Perubahan

Pebriyansah menilai tantangan terbesar ke depan bukan sekadar bagaimana menanam kopi lebih banyak, tetapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap kopi.

“Kita tidak bisa lagi melihat kopi hanya sebagai tanaman. Kopi adalah bagian dari ekosistem yang menghubungkan petani, hutan, teknologi, perempuan, perusahaan dan pasar,” ujar Pebriyansah.

Karena itu, perubahan harus dilakukan bersama. Petani meningkatkan produktivitas, pendamping memperkuat kapasitas masyarakat, pemerintah membangun kebijakan dan ekosistem, perusahaan membuka pasar, sementara teknologi memastikan proses produksi dapat ditelusuri dan memberikan nilai tambah.

Pada akhirnya, keberhasilan kopi agroforestri Kerinci bukan hanya diukur dari jumlah kopi yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi kembali kepada petani, seberapa kuat masyarakat diberdayakan, dan seberapa baik hutan tetap terjaga.

Kopi Kerinci pun berpeluang berkembang bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi menjadi model bisnis agroforestri yang mempertemukan ekonomi, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat untuk menghadapi pasar global.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

KERINCI, JAMBI — (11-13)Peluang bisnis kopi Kerinci semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan pasar global terhadap kopi yang berkualitas, terlacak, dan berkelanjutan. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mengubah cara budidaya dan membangun rantai bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani tanpa mengorbankan hutan.Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan kopi agroforestri yang dimoderatori Pebriyansah dan menghadirkan lima narasumber, yakni .Surip Mawardi, Agung Wibowo, Bang Day dari KKI WARSI, Ariansyah, dan Suryono selaku CEO ALKO.Diskusi tersebut mempertemukan perspektif penelitian dan budidaya kopi, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan pemerintah, serta dunia usaha. Benang merahnya sama: masa depan kopi Kerinci membutuhkan perubahan dari kebun hingga pasar.Produktivitas Harus Dimulai dari DataPeneliti kopi Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. menekankan bahwa pengembangan kopi tidak boleh dilakukan berdasarkan asumsi.“Belum tentu masalahnya keragaan, belum tentu tanam, belum tentu market. Yang bisa menjawab adalah data,” ujar Surip.Menurut dia, data diperlukan untuk mengetahui persoalan sebenarnya di tingkat kebun, termasuk produktivitas, kondisi tanaman, varietas, dan peluang pasar.Ia juga mendorong petani melihat kopi sebagai investasi jangka panjang. Kebun yang dikelola dengan baik bukan hanya menghasilkan panen, tetapi dapat menjadi aset ekonomi keluarga.Agroforestri Jadi Jalan TengahPak Agung menyoroti pentingnya agroforestri sebagai pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan.Pengembangan kopi, menurutnya, tidak seharusnya hanya mengejar jumlah tanaman, tetapi juga mempertahankan tanaman kehutanan dan komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi.“Agroforestri harus mampu menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” menjadi garis besar pandangannya.Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas sekaligus membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.Perhutanan Sosial Harus Menghasilkan Nilai EkonomiDari perspektif masyarakat dan kawasan hutan, Bang Day dari KKI WARSI menekankan pentingnya perencanaan secara partisipatif.Setelah masyarakat memperoleh akses melalui perhutanan sosial, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dikelola dan menghasilkan manfaat nyata.Potensi ekonomi perlu diidentifikasi, baik di dalam maupun di sekitar kawasan.“Ketika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi, hutan juga terancam,” menjadi salah satu pesan penting dalam diskusi.Karena itu, kopi dapat dikembangkan bersama tanaman kayu, buah-buahan dan komoditas lainnya sehingga masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.Pemerintah Perlu Memperkuat EkosistemDari sisi pemerintah, Ariansyah menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi sekaligus memberdayakan petani.Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter petani dan komoditas yang berbeda. Di wilayah barat Jambi, kopi telah menjadi bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.Pengembangannya perlu didukung melalui praktik pertanian berkelanjutan, termasuk Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).Dukungan pemerintah, menurut Ariansyah, tidak cukup berupa bantuan produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi kemampuan, kelembagaan, pembiayaan dan akses pasar.Pemberdayaan Perempuan Jadi Kekuatan BisnisSementara itu, CEO ALKO Suryono membawa diskusi pada hubungan antara bisnis, keberlanjutan dan pasar global.“ALKO dalam berbisnis ingin melindungi alam dan memberdayakan masyarakat,” kata Suryono.Ia menilai perempuan memiliki peran besar dalam rantai kopi, mulai dari penanaman hingga sortasi. Namun, keterlibatan tersebut harus ditingkatkan dari sekadar tenaga kerja menjadi bagian dari manajemen.“Perempuan jangan hanya jadi buruh, tapi harus ikut dalam manajemen,” ujarnya.Menurut Suryono, pemberdayaan perempuan, masyarakat, perlindungan lingkungan dan traceability dapat menjadi kekuatan bisnis ketika kopi masuk ke pasar internasional.Dari Kebun Kerinci ke Pasar GlobalDiskusi yang dimoderatori Pebriyansah menemukan satu kesimpulan utama: masa depan kopi Kerinci tidak cukup dibangun hanya dengan meningkatkan produksi.Kopi harus memiliki produktivitas, kualitas, sistem agroforestri, kelembagaan petani, traceability, serta akses pasar yang kuat.Peluang pasar tersebut mulai terlihat dari perkembangan ekspor kopi Kerinci. Pada Festival Pesta Rakyat Petani Kopi Kerinci 2026, sebanyak 7 ton kopi dilepas ke Kanada dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar dan 7 ton lainnya ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp1,2 miliar. PT ALKO juga menandatangani MoU dengan Royal Coffee dari Amerika Serikat untuk rencana ekspor dua kontainer pada Oktober dan November 2026.Tantangan Berikutnya adalah PerubahanPebriyansah menilai tantangan terbesar ke depan bukan sekadar bagaimana menanam kopi lebih banyak, tetapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap kopi.“Kita tidak bisa lagi melihat kopi hanya sebagai tanaman. Kopi adalah bagian dari ekosistem yang menghubungkan petani, hutan, teknologi, perempuan, perusahaan dan pasar,” ujar Pebriyansah.Karena itu, perubahan harus dilakukan bersama. Petani meningkatkan produktivitas, pendamping memperkuat kapasitas masyarakat, pemerintah membangun kebijakan dan ekosistem, perusahaan membuka pasar, sementara teknologi memastikan proses produksi dapat ditelusuri dan memberikan nilai tambah.Pada akhirnya, keberhasilan kopi agroforestri Kerinci bukan hanya diukur dari jumlah kopi yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi kembali kepada petani, seberapa kuat masyarakat diberdayakan, dan seberapa baik hutan tetap terjaga.Kopi Kerinci pun berpeluang berkembang bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi menjadi model bisnis agroforestri yang mempertemukan ekonomi, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan masyarakat untuk menghadapi pasar global.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

KERINCI, Jambi —11-13/ Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) bersama petani dan berbagai mitra menyelenggarakan Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 pada 11–12 September 2026 di Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi.Mengusung semangat memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, festival ini mempertemukan petani, kelompok tani, koperasi, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, hingga pembeli kopi dari pasar internasional.Rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi ajang perayaan petani kopi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat akses pembiayaan, traceability, perdagangan kopi, hilirisasi, serta kemitraan kehutanan dan agroforestri.ALKO dan BPDLH Perkuat Akses Dana Bergulir PetaniSalah satu agenda utama festival adalah penandatanganan sejumlah kerja sama strategis, termasuk Memorandum of Understanding (MoU) antara ALKO dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat peran ALKO sebagai mitra agregator dalam membantu akses pembiayaan fasilitas dana bergulir kepada petani binaan koperasi ALKO.Pada tahap awal, program akan menyasar petani binaan di Kerinci, Jambi dan Bengkulu, dengan target sekitar 100 petani dan nilai pembiayaan diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.Program kemudian direncanakan berkembang menjadi sekitar 800 petani, dan tahap berikutnya mencapai 2.500 petani binaan ALKO, dengan target penyaluran pembiayaan hingga Rp37,5 miliar sampai 2027.Skema tersebut juga akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi QThink-X untuk mendukung data, monitoring dan mitigasi dalam ekosistem petani.Kolaborasi ALKO dan WARSISelain dengan BPDLH, ALKO juga menandatangani MoU dengan KKI WARSI untuk mengembangkan potensi hutan adat, sumber daya lokal dan kelompok binaan WARSI.Dalam kerja sama tersebut, ALKO diposisikan untuk dapat berperan sebagai offtaker maupun agregator bagi produk dan potensi ekonomi masyarakat binaan.Kerja sama ini memperluas pendekatan ALKO yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan kopi, tetapi juga membangun keterhubungan antara petani, masyarakat sekitar hutan, konservasi, agroforestri dan pasar.Kontrak Pembelian Kopi dengan Royal Coffee USAFestival juga menjadi momentum penguatan akses pasar internasional.ALKO menandatangani kontrak pembelian kopi dengan Royal Coffee USA untuk kopi Kerinci yang direncanakan dikirim pada Oktober dan November 2026.Kontrak tersebut mencakup dua kontainer kopi dengan nilai sekitar Rp6,5 miliar atau USD 365.000.Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar kopi Kerinci sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani dan ekosistem produksi di tingkat hulu.Pelepasan Ekspor Kopi ke Kanada dan MalaysiaDalam rangkaian acara, ALKO juga melakukan pelepasan ekspor kopi ke pasar internasional.Sebanyak 7 ton kopi senilai sekitar USD74.000 dilepas menuju Kanada. Jumlah yang sama juga dilepas menuju Malaysia kepada dua buyer, dengan nilai sekitar USD74.000.Dengan demikian, total ekspor yang dilepas dalam momentum tersebut mencapai 14 ton, dengan nilai sekitar USD148.000 atau Rp2,6 miliar.Pelepasan ekspor ini menjadi simbol bahwa kopi Kerinci tidak hanya memiliki potensi sebagai komoditas lokal, tetapi juga semakin terhubung dengan rantai perdagangan global.Festival Tidak Berhenti di PerdaganganFestival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan interaksi langsung dengan ekosistem kopi.Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan tari selamat datang, doa, sambutan para pemangku kepentingan, penandatanganan kerja sama, pelepasan ekspor, serta pertunjukan budaya berupa Tari Petani dan Reog.Pada sore hari, peserta mengikuti Coffee Fun Brew, lomba kopi, seminar dan business matching.Sementara pada hari kedua, peserta mengikuti coffee field trip dengan mengunjungi pabrik ALKO, kebun kopi dan lokasi pengolahan kopi sebelum kembali ke lokasi festival.Di lokasi utama, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Internasional, Coffee Fun Brewing dan diskusi mengenai masa depan kopi Kerinci.Salah satu tema penting yang diangkat adalah “Upaya Membangun Ekosistem Traceability Kopi Agroforestry Kerinci Berbasis Blockchain Web 3.0” sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Kerinci di pasar global.Dari Kebun, Teknologi hingga Pasar DuniaKetua Pembina Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO), Suryono, dalam rangkaian kegiatan tersebut menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan petani dengan pembiayaan, teknologi, pengolahan dan pasar.Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Petani juga membutuhkan akses terhadap teknologi, pembiayaan dan kepastian pasar.Melalui berbagai kerja sama yang dibangun, ALKO mendorong agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi bagian penting dalam rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 akhirnya menjadi ruang pertemuan antara petani, hutan, teknologi, pembiayaan dan pasar internasional.Dari Kerinci, pesan yang dibawa adalah bahwa masa depan kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji, tetapi juga oleh bagaimana seluruh ekosistem di belakangnya—mulai dari petani, koperasi, lingkungan, teknologi hingga pembeli global—dibangun secara bersama-sama.

Read More  

Admin Alko | 14/09/2026

BENGKULU,  Sejarah baru bagi Provinsi Bengkulu terukir pada Senin, 7 September 2026. Untuk pertama kalinya, kopi asal Bumi Rafflesia resmi diekspor langsung dengan identitas daerah sendiri. Sebanyak 1,92 ton biji kopi robusta dengan branding "Ngopi Bengkulu" dilepas ke Italia, menandai babak baru dalam perjalanan komoditas unggulan daerah menuju panggung dunia.Acara pelepasan ekspor perdana ini berlangsung di Kabupaten Kepahiang dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Bengkulu, Bupati Kepahiang H. Zurdinata, unsur Forkopimda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, pelaku usaha, serta puluhan wartawan ekonomi.Momen ini bukan sekadar seremoni. Selama ini, kopi Bengkulu yang merupakan produsen kopi peringkat 5 nasional dengan produksi mencapai 55 ribu ton atau 7,23 persen dari total produksi nasional pada 2023, kerap keluar negeri tanpa identitas daerah. Aktivitas ekspor kopi memang telah berlangsung, namun komoditas tersebut belum sepenuhnya tercatat sebagai ekspor yang berasal langsung dari Bengkulu.Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menegaskan bahwa ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi Provinsi Bengkulu."Ekspor kopi sering kali dilakukan, bahkan mungkin setiap hari. Tetapi ekspor yang tercatat berasal dari Bengkulu, dengan Surat Keterangan Asal atau Certificate of Origin yang berasal dari Bengkulu, mungkin baru dilakukan hari ini," ujar Wahyu.Menurutnya, kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan perekonomian Provinsi Bengkulu. Ia berharap momentum ekspor perdana ini dapat menjadi awal bagi semakin banyak komoditas unggulan daerah yang tercatat sebagai produk ekspor Bengkulu.Wakil Gubernur: Ini Langkah Awal, Tak Ada Lagi Kopi Bengkulu Bernama Kopi LampungWakil Gubernur Bengkulu dalam sambutannya menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ekspor perdana ini. Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi langkah awal yang sangat penting bagi Provinsi Bengkulu."Saya mendukung penuh kegiatan perdana ini. Ke depannya, ini menjadi langkah awal yang menentukan. Tidak boleh lagi ada kopi Bengkulu yang keluar dengan nama kopi Lampung. Kopi Bengkulu harus punya nama sendiri, identitas sendiri, dan kita mulai hari ini," tegas Wakil Gubernur.Pernyataan ini merespons kondisi selama ini di mana kopi Bengkulu yang memiliki kualitas baik kerap dipasarkan melalui provinsi lain sehingga tercatat sebagai ekspor daerah lain. Dengan adanya Surat Keterangan Asal (SKA) Bengkulu dan branding "Ngopi Bengkulu", identitas kopi daerah kini mulai terbangun.Wakil Gubernur juga mengapresiasi peran PT ALKO Sumatera Kopi yang telah menjadi motor penggerak ekosistem kopi Bengkulu, mulai dari pendampingan petani hingga fasilitasi ekspor langsung ke pasar internasional."Ngopi Bengkulu": Dari Identitas Daerah Menuju Merek GlobalSelama ini kopi Bengkulu memiliki kualitas yang baik, namun masih menghadapi tantangan pada aspek branding, hilirisasi, dan akses pasar. Sebagian besar kopi Bengkulu dipasarkan melalui provinsi lain sehingga identitas kopi daerah kurang dikenal langsung di pasar internasional.Bupati Kepahiang H. Zurdinata menyatakan bahwa ekspor kopi melalui Pelabuhan Pulau Baai memberikan nilai tersendiri bagi Provinsi Bengkulu. Sebab, kopi yang dikirim ke pasar luar negeri tersebut membawa nama Bengkulu sebagai daerah penghasil kopi."Ekspor kopi kali ini Bengkulu dapat nama, karena diekspor lewat Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Terbentuk pasar di internasional ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani kopi," ujar Zurdinata.Menurutnya, ekspor perdana tersebut tidak hanya sebatas kegiatan perdagangan, tetapi menjadi awal untuk membangun "branding kopi Bengkulu" agar semakin dikenal di pasar dunia. Dengan terbentuknya pasar internasional, rantai ekonomi komoditas kopi diharapkan semakin kuat dan memberikan manfaat lebih besar bagi petani.Zurdinata menyebutkan, Rejang Lebong, Lebong dan Kepahiang merupakan daerah penghasil kopi Robusta yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bersama. Penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) di tiga daerah tersebut dinilai penting untuk membangun kolaborasi pertanian yang mampu menembus pasar global.Bantuan Sarana Produksi dari BI untuk UMKM Binaan ALKODalam acara yang sama, dilakukan penyerahan bantuan sarana produksi kepada dua UMKM binaan ALKO, yaitu:1. Koperasi Belirang Bumi Persada2. Koperasi Sinar Alamat SentosaBantuan berupa mesin roasting dan mesin sortasi ini diberikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan kapasitas produksi kopi daerah. Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyampaikan bahwa bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas olahan kopi sehingga nilai tambah produk semakin tinggi."Kami dari BI Bengkulu memberikan bantuan mesin roasting dan mesin sortasi kepada dua koperasi binaan ALKO. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mendukung penguatan kapasitas petani dan pelaku usaha kopi di Bengkulu agar siap ekspor," ujar Wahyu.Lima KUPS dan Koperasi Ikut dalam Ekspor PerdanaSelain dua koperasi penerima bantuan, ekspor perdana kali ini juga melibatkan 3 KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) binaan Warsi yang kopinya ikut dikirim dalam container ekspor ALKO ke Italia, yaitu:1. KUPS Pesona Bukit Resam2. KUPS Kopi Sako Lemunakai3. KUPS Sumur Alam (Bengkulu Utara)Kelima entitas petani ini menjadi bagian dari ekosistem kopi Bengkulu yang kini mulai terhubung langsung dengan pasar ekspor. Produksi kopi mereka dikonsolidasikan oleh ALKO sebagai agregator dan dikirim bersama dalam ekspor perdana yang bersejarah ini.ALKO dan BI Jalin Kerja Sama Inklusif Bangun Petani Siap EksporDirektur PT ALKO Sumatera Kopi menegaskan bahwa perusahaan memiliki kerja sama yang inklusif dengan Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu dalam membangun petani siap ekspor di Kabupaten Rejang Lebong dan sekitarnya."ALKO memiliki kerja sama inklusif dengan BI Bengkulu untuk membangun petani siap ekspor di Rejang Lebong dan Bengkulu. Kami bersama BI melakukan pendampingan mulai dari hulu, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan, hingga akses pasar ekspor," jelas perwakilan ALKO.Kerja sama ini mencakup berbagai aspek, antara lain:· Pendampingan teknis budidaya kopi berkualitas· Pelatihan pascapanen dan pengolahan· Penguatan kelembagaan koperasi dan KUPS· Fasilitasi akses pembiayaan· Penggunaan teknologi traceability QThink-X· Pendampingan sertifikasi dan standar eksporQThink-X: Teknologi Traceability untuk Transparansi Rantai PasokALKO juga memperkenalkan implementasi sistem QThink-X, platform traceability berbasis blockchain yang memungkinkan asal-usul kopi dapat ditelusuri mulai dari petani, lahan, proses pasca panen, hingga distribusi ekspor. Teknologi ini dinilai penting untuk menjawab tuntutan pasar global yang kini semakin ketat terhadap standar keberlanjutan dan transparansi produk.Direktur Operasional PT ALKO Sumatra Kopi, Hongly Fernando, dalam forum diskusi sebelumnya menyoroti pentingnya transformasi industri kopi nasional yang tidak hanya fokus pada produksi bahan baku, tetapi juga pada pembangunan identitas daerah, transparansi rantai pasok, dan penguatan merek kopi Indonesia di pasar dunia."Pasar global hari ini tidak hanya membeli kopi, tetapi juga membeli cerita, asal-usul, keberlanjutan, dan transparansi produk. Karena itu kopi Bengkulu memiliki peluang besar jika dibangun dengan ekosistem yang kuat," ujar Hongly.Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung petani, Koperasi Petani Alam Korintji (ALKO) memberikan akses penggunaan platform QThink-X secara gratis kepada petani dan kelompok tani di Bengkulu. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat digitalisasi sektor pertanian sekaligus membantu petani memenuhi standar pasar global tanpa beban biaya tambahan.Dukungan BI Bengkulu dan Kolaborasi Lintas SektorBank Indonesia Perwakilan Bengkulu memainkan peran penting dalam mendorong penguatan komoditas kopi daerah agar mampu menembus pasar internasional secara langsung. BI juga menekankan pentingnya peran perbankan dalam mendukung pelaku usaha, khususnya UMKM dan eksportir kopi.Wahyu mengatakan dukungan perbankan diperlukan tidak hanya dalam pembiayaan pengembangan produksi, tetapi juga pada tahap transaksi perdagangan internasional."Kalau kita ingin berusaha agar UMKM lebih kuat lagi, perbankan menjadi kunci, baik untuk pengembangan produksi maupun nanti pada saat fasilitasi untuk kredit ekspor," jelasnya.Ia menambahkan, bank devisa memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekspor, termasuk fasilitasi penerbitan Letter of Credit (LC) serta berbagai kebutuhan transaksi perdagangan internasional lainnya.BI Bengkulu juga terus mendorong pelaku UMKM kopi untuk meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, serta memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional. BI bahkan mengarahkan kopi Bengkulu untuk membangun kerja sama dengan jaringan kedai kopi berskala nasional dan internasional, termasuk Starbucks dan Tomoro Coffee.Potensi Besar dan Tantangan ke DepanProvinsi Bengkulu memiliki potensi signifikan pada kopi robusta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Bengkulu merupakan produsen kopi terbesar ke-5 di Indonesia dengan produksi mencapai 55 ribu ton. Namun, tantangan pada aspek tata kelola usaha, kelembagaan, serta mutu pascapanen masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan bahwa potensi besar yang dimiliki daerah, khususnya sektor kopi dan perhutanan sosial, harus mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, pada awal tahun 2026 telah diluncurkan Program Kopi Merah Putih, yang menjadi salah satu strategi percepatan hilirisasi kopi dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Program tersebut kini sejalan dengan peluncuran Strategi dan Transformasi Ekonomi Komunitas Perhutanan Sosial (PS) yang fokus pada pengembangan model bisnis berbasis masyarakat.Provinsi Bengkulu menjadi salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menjadi lokus intervensi program tersebut, dengan total dukungan anggaran sebesar USD 1.453.904 atau setara Rp23,55 miliar dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan RI.Harapan Besar untuk Kesejahteraan PetaniDengan adanya branding dan pengiriman langsung dari Bengkulu, diharapkan Kopi Bengkulu dapat dikenal di tingkat dunia. Hal ini diyakini akan berdampak pada peningkatan permintaan, kenaikan harga, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Provinsi Bengkulu.Bupati Kepahiang dalam sambutannya menegaskan bahwa ini bukan sekadar ekspor biasa."Ini adalah langkah awal kita untuk membawa nama Kopi Bengkulu ke dunia. Kalau sudah dikenal dunia, pasarnya pasti banyak, pembelinya pasti banyak, dan ujungnya harga kopi petani kita naik. Harapan kita satu: meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Provinsi Bengkulu," tegasnya.Wakil Gubernur Bengkulu menutup sambutannya dengan optimisme tinggi."Ini langkah awal kita. Tidak boleh lagi ada kopi Bengkulu yang keluar dengan nama daerah lain. Kita mulai dari sekarang, kita bangun bersama, dan saya yakin kopi Bengkulu akan dikenal dunia," pungkasnya.BI Bengkulu berharap ekspor perdana ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat rantai pasok kopi Bengkulu dari hulu hingga hilir. Mulai dari peningkatan kualitas produksi, pengolahan pascapanen, pembiayaan, sertifikasi, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran internasional perlu dilakukan secara berkesinambungan.Ekspor perdana ini juga menunjukkan bahwa kopi Bengkulu memiliki peluang untuk menembus pasar global. BI Bengkulu selanjutnya berupaya memperluas akses pasar agar produk kopi daerah tidak berhenti pada pasar ekspor, tetapi juga masuk ke rantai pasok perusahaan dan jaringan usaha berskala besar.Sinergi antara pemerintah daerah, BI, perbankan, eksportir, pelaku UMKM, dan petani dinilai menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Dengan terbukanya peluang ekspor dan rencana kemitraan dengan jaringan kedai kopi besar, kopi Bengkulu diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu produk unggulan daerah dan membawa manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.

Read More  

Admin Alko | 07/09/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.