KOPERASI ALKO KERINCI DAN DONOR JEPANG KEMBANGKAN MODEL PERTANIAN RENDAH KARBON: DARI KULIT MANIS HINGGA KOPI RAMAH IKLIM

Admin Alko | 21/10/2025


Kerinci, Jambi –20 Oktober 2025.
Langkah besar menuju pertanian berkelanjutan dan ekonomi hijau kembali lahir dari lereng Gunung Kerinci. Koperasi Produsen Petani Alam Korintji (ALKO) bersama mitra Jepang, Saka no Tochu Co., Ltd, mendapat dukungan pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (Japanese Government) - METI (kementrian Perdaganagn Jepang) meluncurkan studi kelayakan dekarbonisasi rantai pasok kopi dan rempah di Kabupaten Kerinci, Jambi yang bertempat di Koperasi Alam Korintji.
Acara peluncuran resmi ini dihadiri langsung oleh Bupati Kerinci, Monadi ,S.Sos,.M.Si, yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya menjadikan Kerinci sebagai sentra “Kopi Ramah Karbon” pertama di Indonesia.

Kegiatan ini sekaligus menandai pengiriman ekspor kulit manis (cinnamon) dari Kerinci ke Kobe, Jepang, menggunakan sistem traceability berbasis blockchain yang transparan dan berorientasi pada pengurangan emisi karbon.


KOMITMEN PEMERINTAH DAERAH: KERINCI MENUJU SENTRA PERTANIAN BERKELANJUTAN

Dalam sambutannya, Bupati Kerinci, Monadi, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang diinisiasi oleh Koperasi ALKO bersama mitra internasional. Beliau menegaskan pentingnya kegiatan ini bagi pengembangan ekonomi daerah dan keberlanjutan lingkungan.

“Kami menginginkan agar kegiatan ini dapat memberikan dukungan nyata bagi peningkatan nilai tambah kopi Kerinci yang sudah dikenal luas, serta mendorong studi-studi serupa agar terus berkembang,” ujar Bupati Kerinci.
“Kami juga mendorong kerja sama dengan universitas agar mampu menghasilkan benih asli Kerinci yang unggul dan sesuai karakter wilayah kita.”

Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah akan mendukung langkah-langkah yang dilakukan ALKO dalam membangun sistem pertanian berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani.


DONOR JEPANG DUKUNG LABEL “KOPI KERINCI RAMAH KARBON”

Perwakilan peneliti dari Saka no Tochu Co., Ltd, dan Ministry of Economy, Trade and Industry (Japanese Government) - METI selaku donor utama proyek ini, menyampaikan bahwa Jepang memiliki perhatian besar terhadap isu perubahan iklim dan ketelusuran produk pertanian dari negara produsen.

“Kami berharap studi ini dapat membantu meningkatkan nilai tambah bagi petani melalui penerapan teknologi hijau dan penilaian emisi karbon di setiap tahap produksi,”  ujar Yukiko Isayama perwakilan Saka no Tochu.
“Kami mendukung agar Kerinci dapat mengembangkan label ‘Kopi Kerinci Ramah Karbon’, yang menjadi simbol bahwa setiap biji kopi dan rempah yang dihasilkan di sini diproduksi secara bertanggung jawab terhadap bumi.”

Inisiatif ini menjadi bagian dari program Green Transformation (GX) Model, yaitu proyek lintas negara untuk mengurangi emisi karbon dalam rantai pasok kopi di Papua Nugini, Thailand, dan Indonesia. ALKO ditunjuk sebagai mitra pelaksana utama di Indonesia karena rekam jejaknya dalam ekspor kopi dan rempah berkelanjutan.


STUDI KELAYAKAN DEKARBONISASI: MENGUKUR JEJAK KARBON DARI KEBUN KE CANGKIR


Tujuan utama studi kelayakan ini adalah untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang peran sektor pertanian kopi dan rempah dalam pengurangan emisi karbon.
Melalui pendekatan ilmiah berbasis Life Cycle Assessment (LCA), proyek ini akan memetakan sumber-sumber emisi pada setiap tahapan rantai pasok – mulai dari budidaya, pengolahan, transportasi, hingga penjualan.

Harapannya, studi ini dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk petani agar produktivitas meningkat sekaligus menekan emisi.
Selain itu, hasil penelitian ini juga akan membantu merumuskan model pertanian karbon positif, di mana lahan pertanian tidak hanya menghasilkan komoditas ekonomi tetapi juga menyerap karbon dari atmosfer.


INOVASI TEKNOLOGI: BLOCKCHAIN UNTUK KETELUSURAN DAN EMISI RENDAH

Dalam kegiatan ekspor kulit manis ke Jepang, Koperasi ALKO telah menerapkan sistem traceability digital berbasis blockchain melalui aplikasi QThink-X.
Setiap batch kulit manis yang dikirim kini dilengkapi dengan kode QR unik berisi informasi detail tentang petani, lokasi kebun, waktu panen, proses pengeringan, serta estimasi emisi karbon yang dihasilkan.

Teknologi ini memungkinkan pembeli di luar negeri menelusuri jejak produk secara transparan dan memastikan bahwa kulit manis Kerinci diproduksi dari lahan bebas deforestasi serta menggunakan praktik ramah lingkungan.
Selain itu, data digital yang tercatat di blockchain menjadi dasar untuk menghitung jejak karbon (carbon footprint) secara akurat.


AGROFORESTRI DAN BIOCHAR: PENYERAPAN KARBON DARI ALAM KERINCI

ALKO dan para petani anggota telah lama menerapkan sistem agroforestri alami, yaitu pola tanam campuran antara kayu manis, kopi, dan tanaman keras lain di bawah naungan pohon hutan.
Sistem ini tidak hanya menjaga ekosistem tanah, tetapi juga meningkatkan penyerapan karbon di tanah (soil carbon sequestration).
Setiap pohon kayu manis dewasa di perkebunan Kerinci dapat menyerap  karbon per tahunnya, menjadikan praktik ini sebagai solusi nyata mitigasi iklim.

Selain itu, ALKO tengah menguji penerapan biochar, yaitu arang hayati hasil pembakaran limbah organik pada suhu rendah yang mampu menyimpan karbon dalam tanah selama puluhan tahun.
Kedua pendekatan ini berkontribusi langsung pada pengurangan emisi gas rumah kaca (GHG) di sektor pertanian.


EUDR DAN TRANSPARANSI GLOBAL

Langkah dekarbonisasi ini juga memperkuat posisi Kerinci di pasar global yang semakin ketat terhadap regulasi keberlanjutan.
Kegiatan produksi ALKO telah diverifikasi melalui Dimitra.io Due Diligence Report dan dinyatakan bebas deforestasi (Zero or Negligible Deforestation Risk) pada area seluas 10,17 hektare di Kabupaten Kerinci.
Kepatuhan terhadap European Union Deforestation Regulation (EUDR) menjadi bukti bahwa Kerinci siap bersaing di pasar dunia dengan standar keberlanjutan yang tinggi.


JADWAL IMPLEMENTASI PROYEK GX

Proyek GX Model dijalankan dengan tahapan terukur selama satu tahun:

  • September 2025: Persiapan survei lapangan dan koordinasi dengan lembaga pemerintah serta koperasi mitra.

  • Oktober–November 2025: Pelaksanaan survei lapangan di Indonesia, Papua Nugini, dan Thailand.

  • Desember 2025: Analisis rantai pasok dan penghitungan awal emisi karbon (LCA).

  • Januari–Februari 2026: Penyusunan model GX dan desain teknis proyek percontohan.

  • Maret–Mei 2026: Pelaksanaan uji coba teknologi hijau, seperti biochar, agroforestri, dan green logistics.

  • Juni–Agustus 2026: Pemantauan, penghitungan pengurangan emisi, serta penyusunan laporan hasil proyek dan rencana kelanjutan.

Melalui jadwal ini, proyek diharapkan melahirkan model rantai pasok kopi dan rempah rendah karbon yang dapat direplikasi di seluruh wilayah Asia Tenggara.


DAMPAK BAGI PETANI DAN PEREKONOMIAN LOKAL

Implementasi sistem dekarbonisasi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga langsung meningkatkan kesejahteraan petani.
Dengan adanya sistem traceability dan transparansi, harga kulit manis dan kopi Kerinci meningkat 15 hingga 20 persen, karena pasar internasional memberikan nilai tambah bagi produk berlabel ramah karbon.

Petani juga mendapat manfaat dari pelatihan yang diselenggarakan oleh ALKO Academy, yang mencakup pencatatan digital hasil panen, perhitungan emisi, penggunaan pupuk organik, dan teknik konservasi tanah.
Selain itu, petani kini mulai memahami bahwa setiap praktik ramah lingkungan berpotensi menghasilkan insentif karbon (carbon credit) yang dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi tambahan.


VISI: KERINCI SEBAGAI MODEL PERTANIAN KARBON POSITIF

Koperasi ALKO menegaskan komitmennya untuk menjadikan Kerinci sebagai model pertanian karbon positif pertama di Indonesia — di mana setiap ton hasil bumi yang dihasilkan mampu menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan.
Prinsip ini sejalan dengan semangat koperasi: Preserves Nature and Empowers People — menjaga alam sambil memberdayakan manusia.

“Transformasi hijau bukan hanya soal teknologi,” ungkap perwakilan ALKO.
“Ini adalah perubahan budaya dan cara berpikir. Petani kita tidak sekadar menanam untuk hidup, tetapi juga untuk melindungi bumi.”


MENUJU LABEL “KOPI KERINCI RAMAH KARBON”

Melalui kerja sama dengan mitra Jepang dan dukungan pemerintah daerah, ALKO sedang menyiapkan peluncuran label “Kopi Kerinci Ramah Karbon” sebagai identitas baru kopi dari dataran tinggi Sumatra.
Label ini akan menjamin bahwa setiap produk kopi Kerinci diproduksi melalui proses rendah emisi, bebas deforestasi, dan sesuai dengan prinsip perdagangan adil (fair trade).

Label tersebut juga diharapkan menjadi nilai tambah ekonomi bagi petani sekaligus membuka akses pasar premium di Jepang dan Eropa yang kini memprioritaskan produk hijau.


DARI KERINCI UNTUK DUNIA

Dari dataran tinggi di kaki Gunung Kerinci, aroma kulit manis dan kopi kini membawa pesan baru bagi dunia: Indonesia siap memimpin transformasi hijau di sektor pertanian.
Koperasi ALKO bersama pemerintah daerah, universitas, dan mitra internasional menunjukkan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar konsep, tetapi bisa diterapkan secara nyata oleh petani kecil.

Melalui sinergi ini, Kerinci menegaskan dirinya sebagai “Land of Spices and Sustainability” — tanah rempah yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan masa depan.


Tentang Koperasi ALKO

Koperasi Produsen Petani Alam Korintji (ALKO) adalah koperasi petani berbasis di Kabupaten Kerinci, Jambi, Indonesia, yang berfokus pada pengembangan kopi dan rempah berkelanjutan.
ALKO aktif mengekspor kopi specialty dan kulit manis ke berbagai negara dengan menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) serta sistem blockchain traceability.

Kontak Media:
ALKO Sumatra Kopi – Kerinci, Jambi, Indonesia
www.alko.id
+62 813 1234 5003



Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

Kunjungan Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, ke Kerinci tidak hanya menjadi agenda penjajakan perdagangan kopi, tetapi juga mencerminkan semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Pakistan melalui diplomasi ekonomi berbasis daerah.Indonesia dan Pakistan merupakan dua negara sahabat yang telah menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1950. Selama lebih dari tujuh dekade, kedua negara terus memperkuat kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, pendidikan, pertanian, hingga pertukaran budaya. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua pemerintah juga terus mendorong peningkatan nilai perdagangan sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi.Dalam kunjungannya ke ekosistem ALKO di Kerinci, Duta Besar Pakistan menilai model yang dikembangkan ALKO memiliki nilai strategis karena tidak hanya menghasilkan komoditas berkualitas, tetapi juga membangun sistem produksi yang berkelanjutan, transparan, dan mampu memberikan manfaat langsung kepada petani."Saya datang dengan tujuan melihat potensi perdagangan kopi. Namun setelah berada di ALKO, saya melihat sesuatu yang jauh lebih besar. Yang dibangun bukan sekadar bisnis kopi, tetapi sebuah ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, teknologi, keberlanjutan, dan akses pasar internasional. Model seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan perdagangan global saat ini," ujar H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri.Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Pakistan dan Indonesia."Kami tidak ingin membatasi kerja sama hanya pada kopi. Setelah melihat potensi yang dimiliki ALKO, kami melihat peluang besar untuk mengembangkan perdagangan berbagai komoditas unggulan Indonesia ke Pakistan. Ini merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui sektor riil yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," katanya.Menurut Duta Besar Pakistan, hubungan bilateral yang telah terjalin lama perlu terus diperkuat melalui kolaborasi konkret antara pelaku usaha kedua negara. Ia menilai kerja sama seperti yang dibangun ALKO dapat menjadi contoh bagaimana diplomasi ekonomi mampu diterjemahkan menjadi kemitraan bisnis yang berkelanjutan.Senada dengan itu, CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, mengatakan bahwa kunjungan tersebut menjadi kehormatan sekaligus momentum penting untuk memperluas kerja sama perdagangan Indonesia–Pakistan."Kami percaya hubungan persahabatan antara Indonesia dan Pakistan yang telah terbangun selama puluhan tahun dapat diperkuat melalui kolaborasi bisnis yang saling menguntungkan. ALKO siap menjadi bagian dari upaya tersebut dengan menghadirkan komoditas yang berkualitas, memiliki sistem traceability, dan diproduksi melalui prinsip keberlanjutan," ujar Suryono.Menurutnya, kerja sama yang akan dituangkan dalam nota kesepahaman pada Rapat Anggota Tahunan Koperasi ALKO bukan hanya berorientasi pada peningkatan volume perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui pengembangan perdagangan multi-komoditas, pembangunan hub distribusi di Pakistan, dan kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat bagi petani serta pelaku usaha di kedua negara.Dengan fondasi hubungan diplomatik yang telah berlangsung lebih dari 75 tahun, kunjungan Duta Besar Pakistan ke Kerinci diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia–Pakistan, sekaligus membuka jalan bagi semakin banyak komoditas unggulan Indonesia untuk memasuki pasar Pakistan dan kawasan Asia Selatan.

Read More  

Admin Alko | 16/07/2026

Kerinci, Jambi — Industri kopi Indonesia memasuki babak baru transformasi berbasis teknologi. PT ALKO Sumatra Kopi bersama PT Biomass Indonesia Global (BIG) menyelesaikan penelitian komprehensif mengenai peningkatan kualitas proses pascapanen kopi melalui pengembangan teknologi Nano Bubble. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam membangun standar baru pengolahan kopi nasional yang lebih modern, berbasis sains, efisien, dan berkelanjutan.Hasil penelitian yang dituangkan dalam Comprehensive Quality Assessment & Improvement Report ALKO–BIG menunjukkan bahwa peningkatan mutu kopi tidak semata ditentukan oleh kualitas bahan baku maupun sumber air, tetapi sangat dipengaruhi oleh optimalisasi proses pencucian (washing process). Temuan tersebut membuka peluang lahirnya standar operasional baru bagi industri kopi Indonesia yang dapat diterapkan secara luas oleh koperasi, eksportir, maupun pelaku usaha kopi.Direktur PT ALKO Sumatra Kopi mengatakan kolaborasi dengan Biomass Indonesia Global merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengembangkan sistem science-based coffee processing, yaitu sistem pengolahan kopi yang seluruh prosesnya didukung oleh penelitian ilmiah, pengukuran laboratorium, serta inovasi teknologi."Selama ini industri kopi lebih banyak berbicara mengenai varietas, budidaya, atau cita rasa. Padahal kualitas akhir produk juga sangat ditentukan oleh proses pascapanen. Bersama Biomass Indonesia Global, kami ingin membangun standar baru pengolahan kopi Indonesia yang berbasis riset, terukur, dan dapat direplikasi oleh industri maupun koperasi di seluruh Indonesia," ujar Direktur PT ALKO Sumatra Kopi.Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas produk ALKO, tetapi juga menjadi kontribusi terhadap pengembangan teknologi pascapanen kopi nasional yang mampu menjawab tantangan perdagangan global.Menjawab Tantangan Industri Kopi ModernPenelitian dilakukan sebagai respons terhadap semakin ketatnya standar mutu kopi di pasar internasional, termasuk meningkatnya perhatian terhadap keamanan pangan, keberlanjutan, serta transparansi rantai pasok. Salah satu regulasi yang menjadi perhatian adalah Japan's Positive List, yang mengatur batas maksimum residu pestisida pada produk pangan impor.Namun, ALKO dan BIG memandang tantangan tersebut bukan sekadar persoalan memenuhi regulasi ekspor, melainkan momentum untuk memperbaiki sistem pengolahan kopi Indonesia melalui pendekatan ilmiah.Selama beberapa pekan, tim peneliti melakukan observasi menyeluruh terhadap kualitas sumber air, karakteristik proses pencucian, fermentasi, hingga berbagai parameter fisika dan kimia yang memengaruhi mutu kopi. Penelitian dilakukan di fasilitas pengolahan ALKO bersama jaringan petani dan koperasi mitranya.Kualitas Air Bukan Faktor PenentuSalah satu hasil penting dari penelitian tersebut adalah ditemukannya fakta bahwa kualitas sumber air yang digunakan ALKO secara umum telah memenuhi karakteristik fisikokimia yang baik untuk proses pengolahan kopi.Variasi kualitas air yang ditemukan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi hidrogeologi alami setiap wilayah dan tidak menjadi faktor utama yang menyebabkan residu yang menjadi perhatian pasar internasional.Temuan ini mengubah paradigma yang selama ini berkembang di kalangan pelaku industri. Jika sebelumnya banyak pihak beranggapan bahwa penggantian sumber air merupakan solusi utama peningkatan mutu, penelitian ALKO–BIG justru menunjukkan bahwa optimalisasi proses pencucian jauh lebih menentukan kualitas akhir kopi.Dengan demikian, investasi pada teknologi proses dinilai memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sekadar mengganti sumber air produksi.Double Washing Semakin DisempurnakanSebagai bagian dari penelitian, tim juga mengevaluasi sistem double washing yang selama ini telah diterapkan ALKO.Hasil evaluasi menunjukkan metode tersebut sudah cukup efektif dalam membersihkan lapisan yang menempel pada permukaan biji kopi. Namun, efektivitasnya masih dapat ditingkatkan melalui pengaturan rasio air, durasi pencucian, intensitas pengadukan, hingga pengelolaan kandungan oksigen terlarut dalam air.Pada pengujian proses semi-washed, misalnya, penambahan pengadukan mampu meningkatkan pelepasan padatan terlarut hampir dua kali lipat dibandingkan proses pencucian tanpa pengadukan. Kondisi tersebut mempercepat penurunan pH sehingga pelepasan residu berlangsung lebih efisien.Sebaliknya, penelitian juga menemukan bahwa proses pencucian yang berlangsung terlalu lama tanpa pergantian air justru dapat memicu fermentasi anaerob yang berpotensi menurunkan kualitas kopi akibat terbentuknya senyawa organik yang tidak diinginkan.Nano Bubble Menjadi Terobosan BaruBagian paling inovatif dari kolaborasi ALKO dan Biomass Indonesia Global adalah pengembangan teknologi Nano Bubble dalam proses pencucian kopi.Teknologi ini bekerja dengan menghasilkan gelembung udara berukuran nano yang mampu meningkatkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di dalam air. Kandungan oksigen yang lebih tinggi terbukti mempercepat perpindahan residu dari permukaan biji kopi ke dalam media pencucian.Dalam serangkaian uji lapangan, perubahan parameter seperti Dissolved Oxygen (DO), Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), temperatur, serta pH menunjukkan bahwa proses pencucian menjadi lebih cepat, lebih stabil, dan lebih efisien dibandingkan metode konvensional.Tim peneliti juga menemukan kombinasi paling optimal antara sistem double washing, rasio air 4:5, pengadukan aktif, dan aerasi sekitar 1,5 liter per menit. Formula tersebut menghasilkan waktu pencucian ideal sekitar 10–15 menit pada setiap tahap pencucian.Selain meningkatkan efisiensi proses, teknologi Nano Bubble juga menghasilkan limbah air dengan tingkat keasaman yang lebih rendah sehingga lebih ramah terhadap lingkungan.Menuju Standar Baru Industri KopiMeski menunjukkan hasil yang menjanjikan, ALKO dan BIG menegaskan bahwa penelitian ini masih merupakan baseline study. Oleh karena itu, hasil awal tersebut akan dilanjutkan melalui pengujian laboratorium untuk memverifikasi efektivitas teknologi terhadap penurunan residu pestisida seperti 2,4-D dan Isoprocarb.Sebagai tindak lanjut, Biomass Indonesia Global merekomendasikan pelaksanaan pilot project Nano Bubble di fasilitas utama ALKO. Proyek ini akan menjadi tahap validasi sebelum teknologi diterapkan secara lebih luas pada jaringan pengolahan kopi ALKO maupun koperasi-koperasi mitra di berbagai daerah.Selain itu, BIG juga merekomendasikan standardisasi parameter operasional seperti rasio air, waktu pencucian, frekuensi pengadukan, dan jadwal pergantian air agar proses pascapanen menghasilkan kualitas yang konsisten.Menurut Biomass Indonesia Global, pendekatan bertahap berbasis data ini akan memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi setiap keputusan investasi teknologi di sektor kopi.Membangun Industri Kopi Berbasis Riset dan TeknologiKolaborasi antara ALKO dan Biomass Indonesia Global menunjukkan bahwa masa depan industri kopi Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh luas lahan atau volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan inovasi teknologi.Melalui pendekatan berbasis riset, teknologi Nano Bubble diproyeksikan tidak hanya meningkatkan efisiensi proses pascapanen, tetapi juga memperkuat konsistensi mutu, mendukung keberlanjutan lingkungan, serta meningkatkan nilai tambah kopi Indonesia di pasar premium dunia.Ke depan, ALKO berencana mengintegrasikan hasil penelitian ini dengan sistem traceability berbasis blockchain QThink-X, sehingga seluruh proses pascapanen dapat terdokumentasi secara digital dan transparan, mulai dari kebun petani hingga produk diterima oleh pembeli.Sinergi antara ALKO dan Biomass Indonesia Global ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara pelaku usaha dan perusahaan berbasis teknologi dalam membangun ekosistem kopi nasional yang lebih modern. Dengan menggabungkan inovasi, penelitian, digitalisasi, dan keberlanjutan, kedua perusahaan optimistis Indonesia tidak hanya dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, tetapi juga sebagai pelopor teknologi pascapanen kopi tropis yang mampu menjadi referensi bagi industri kopi global.

Read More  

Admin Alko | 06/07/2026

Bisnis | Ekspor KopiSEOUL — PT ALKO Sumatra Kopi terus memperluas penetrasi pasar ekspor dengan mengikuti Korea Import Expo (KIE) 2026, ajang perdagangan internasional yang mempertemukan eksportir global dengan importir, distributor, retailer, dan buyer potensial dari Korea Selatan. Keikutsertaan ALKO dalam pameran tersebut difasilitasi oleh program BNI Xpora, sebagai bagian dari upaya memperkuat akses produk Indonesia ke pasar internasional.Direktur PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, mengatakan pasar Korea Selatan menjadi salah satu target strategis perusahaan seiring meningkatnya konsumsi kopi specialty dan kebutuhan bahan baku berkualitas tinggi di negara tersebut.“Pasar Korea memiliki karakteristik yang sangat menarik. Konsumen semakin menghargai kualitas, asal-usul produk, serta aspek keberlanjutan. Ini sejalan dengan model bisnis yang kami bangun bersama petani dan koperasi,” ujarnya.Partisipasi ALKO dalam Korea Import Expo difokuskan pada agenda business matching dengan sejumlah calon importir, perusahaan roasting, distributor minuman, jaringan kafe, hingga pelaku industri makanan dan minuman Korea Selatan.Menurut data industri kopi Korea, negara tersebut menjadi salah satu pasar kopi terbesar di Asia dengan pertumbuhan konsumsi yang terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Tingginya permintaan terhadap specialty coffee membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperkuat pangsa pasar di kawasan Asia Timur.Tawarkan Kopi Specialty dan Sistem TraceabilityDalam pameran tersebut, ALKO membawa berbagai produk kopi specialty Indonesia yang berasal dari jaringan petani dan koperasi mitra di sejumlah daerah penghasil kopi unggulan seperti Kerinci, Gayo, Flores, Mandailing, dan Toraja.Selain produk kopi, perusahaan juga memperkenalkan sistem traceability digital berbasis QThink-X yang memungkinkan pembeli menelusuri asal-usul produk mulai dari tingkat petani hingga proses ekspor.Penerapan teknologi tersebut dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap transparansi rantai pasok dan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan.“Pasar internasional saat ini tidak hanya membeli kopi. Mereka juga ingin mengetahui siapa petaninya, bagaimana proses produksinya, dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu kami membangun sistem keterlacakan yang dapat menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.BNI Xpora Dorong Ekspansi UMKM dan EksportirKeikutsertaan ALKO dalam Korea Import Expo juga menunjukkan peran BNI Xpora dalam mendukung pelaku usaha nasional memasuki pasar global. "Melalui program BNI Xpora ini diharapkan UMKM dan eksportir Indonesia mendapatkan akses terhadap jaringan buyer internasional, informasi pasar, dan dapat di jadikan sebagai fasilitasi promosi..", Ujar Edi Pramono selaku Kepala Cabang BNI Seoul Branch.Bagi ALKO, dukungan tersebut menjadi peluang untuk mempercepat perluasan pasar sekaligus memperkenalkan model bisnis kopi berbasis koperasi yang selama ini dikembangkan di Kerinci, Jambi.Perusahaan berharap agenda business matching selama pameran dapat menghasilkan kontrak dagang baru dan memperluas kerja sama dengan pelaku industri kopi Korea Selatan.Melalui partisipasi dalam Korea Import Expo 2026, ALKO berharap dapat memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar Asia Timur sekaligus memperluas kontribusi petani dalam rantai pasok global.“Target kami bukan hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi membangun posisi kopi Indonesia sebagai produk premium yang memiliki identitas, kualitas, dan sistem keberlanjutan yang diakui dunia,” kata Suryono.

Read More  

Admin Alko | 23/06/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.