Gagasan pemulihan ekonomi berbasis kopi dan komoditas unggulan Sumatera Barat ini mengemuka dalam sebuah forum resmi yang digelar di Padang pada 23 Desember 2025. Forum tersebut menampilkan paparan bertajuk “Rebuild Better & Fairer: Kemitraan Sumatera Barat–Norwegia untuk Penanggulangan Pascabencana”, yang menjadi ruang awal perumusan kolaborasi lintas sektor untuk merespons dampak bencana secara berkelanjutan. Dalam forum tersebut, Buk Emy memimpin pembentukan tim kecil lintas pemangku kepentingan yang ditugaskan untuk menggagas model kemitraan strategis antara Sumatera Barat dan mitra internasional. Fokus utama kemitraan ini tidak hanya pada respons darurat, tetapi pada pemulihan jangka menengah dan panjang yang menempatkan penguatan ekonomi masyarakat sebagai prioritas utama. Salah satu penekanan utama dalam forum ini adalah bahwa penanganan pascabencana harus berjalan beriringan dengan penguatan pasar hasil komoditas lokal, terutama kopi dan gambir. Pendekatan ini dipandang penting agar wilayah terdampak tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga mampu bangkit secara ekonomi melalui sektor yang telah menjadi tulang punggung penghidupan masyarakat. Peran ALKO dalam Kerangka Kemitraan Dalam diskusi tersebut, ALKO disebut sebagai mitra strategis yang diharapkan berperan aktif dalam membangun jembatan antara petani kopi Sumatera Barat, pemerintah daerah, dan pasar internasional. ALKO diposisikan untuk mendukung penguatan ekosistem kopi pascabencana, mulai dari pendampingan produksi, peningkatan kualitas, hingga pembukaan akses pasar ekspor yang berkelanjutan. Kemitraan ini diarahkan untuk memastikan bahwa kopi Sumatera Barat tidak hanya kembali diproduksi pascabencana, tetapi juga memiliki kepastian pasar melalui kerja sama dengan off-taker internasional. Dengan model ini, petani diharapkan tidak lagi berada dalam ketidakpastian harga dan serapan, melainkan menjadi bagian dari rantai pasok global yang transparan dan adil. Integrasi Lingkungan, Pasar, dan Keberlanjutan Forum tersebut juga menegaskan pentingnya integrasi antara pemulihan ekonomi dan pemulihan lingkungan. Program penanaman pohon di wilayah terdampak banjir dan longsor menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan lanskap pertanian kopi dan mengurangi risiko bencana di masa depan. Dalam kerangka ini, penerapan traceability dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi Sumatera Barat. Dengan sistem yang transparan dan dapat ditelusuri, kopi tidak hanya memenuhi tuntutan pasar internasional, tetapi juga memperkuat posisi tawar petani dan koperasi dalam rantai nilai global. ALKO diharapkan menjadi salah satu penggerak utama dalam implementasi pendekatan ini, sekaligus memastikan bahwa penguatan nilai produk berjalan seiring dengan prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kepastian pasar bagi petani