Saat 7 Anak Kampung Meng-Blockchain-kan 1 Juta Pohon Kopi ber KTP(Padang,17.09.2026/Sry-ALKO). Belakangan diskusi soal dunia blockchain kembali hangat. Istilah itu sangat familiar dan sedang nge-tren. Tak hanya Gen Z, para Gen X atau Gen Milenial juga tidak ketinggalan untuk up to date. Sampai petani juga ingin ikut bicara soal pemanfaatan teknologi ini, terlebih sebagai pengguna dan penerima manfaat nyata dari ekosistem teknologi blockchain ini.Katakanlah organisasi ini, salah satu penerima manfaat atau pengguna sejak 2019. Koperasi Alam Korintji (ALKO) yang ketika itu ditawari penggunaan blockchain untuk diterapkan dalam pertaniannya. Awalnya hanya sebagai alat bukti transaksi dan ketertelusuran produk, atau digitalisasi dari Indikasi Geografis (IG) yang berbasis pada lahan dan koordinat kebun, tidak hanya bentuk kertas saja. Sehingga prinsip digitalisasi blockchain yang real-time dan transparan dapat diterapkan pada kopi dari kebun hingga cangkir, hanya dalam satu klik scan QR saja. Kita tak perlu menulis setiap cerita kebun satu per satu seperti dalam website biasa atau Web 2, cukup dikoneksikan dengan blockchain maka semua akan terbaca secara otomatis. Karena setiap petani memiliki blok data masing-masing. Sebelumnya setiap petani telah didata, namun sebagai petani tidak memegang datanya sendiri, tetapi data itu ada di buku besar kelompok, instansi, atau NGO yang mendatanya. Sekarang dengan blockchain, data dipegang oleh petani masing-masing dalam blok yang mereka miliki sendiri di dalam server yang terpisah, seperti disimpan di email milik petani sendiri.Kopi Kerinci produksi Koperasi ALKO adalah kopi yang pertama di Asia yang telah menerapkan blockchain dalam transaksinya sejak 2019 hingga saat ini. Aplikasi yang dibangun awalnya bernama aplikasi blockchain ALKO Mobile, lalu 2022 menjadi Kommu Apps (Komunitas Kopi Aplikasi), lalu 2023 hingga sekarang menjadi Aplikasi QThink-X. Dulu aplikasi ini hanya untuk kopi dan digunakan oleh ALKO saja, namun saat ini versi QThink-X 5.0 menjadi aplikasi yang bisa untuk semua komoditas petani dan gratis buat petani di seluruh dunia dengan alamat webnya: http://QThinkX.io (QThinkX.com). Lika-liku dalam membangun secara mandiri aplikasi QThink-X ini sejak 2022 juga berat, dimulai dari mencari developer programmer blockchain mandiri yang awalanya lulusan D-III AMIK dengan dinamikanya, proses berat pendataan petani, sosialisasi input petani mandiri, hingga penyiapan lokasi server sebagai ledger atau buku besarnya. Namun saat ini, paripurna aplikasi Qthink-X dengan team yang sudah profesional dalam bidangnya, alamat http://QThinkX.io telah dapat digunakan oleh seluruh petani komoditas di Indonesia dan global. Koperasi ALKO mendedikasikan penggunaannya secara gratis untuk seluruh petani Indonesia dan global untuk membangun ekosistemnya sendiri.Jadi jika kita sebagai petani saat ini memiliki kelompok tani sendiri, memiliki kebun sendiri, memiliki processing sendiri, memiliki buyer atau kafe sendiri serta memiliki pelanggan sendiri, itu artinya Anda telah memiliki Ekosistem. Dan http://QThinkX.io ini akan menjadi alat untuk mengintegrasikan ekosistem pertanian Anda dalam satu jaringan blockchain sebagai peningkatan kekuatan Anda.Jika ekosistem Anda terintegrasi, maka Anda dan ekosistem Anda akan memiliki nilai yang lebih, karena tak hanya memiliki petani atau pelanggan di dalam buku saja, tapi bergerak bersama dalam ekosistem nyata dan dunia maya menjadi satu BUKU BESAR DIGITAL. Inilah salah satu penggunaan blockchain untuk pemanfaatan pertanian menuju fair trade dan transparansi. Dengan petani memiliki database di buku besar secara desentralisasi, maka itu menjadi kekuatan besar yang tidak bisa dikontrol atau dimonopoli, namun bergerak secara bersamaan menuju keadilan peran dalam setiap rantai pasok (Suplay Chain) usaha.Petani memang banyak tidak paham dengan istilah dalam blockchain, dan bagi mereka petani tak mesti harus tahu hal teknis kerumitan blockchain itu, cukup benefit nya apabagi mereka. Di sinilah diperlukan satu kelembagaan yang kuat seperti koperasi yang memiliki misi untuk kesejahteraan bersama, yang juga mesti rajin berinovasi berperan sebagai penerjemah bahasa blockchain agar bisa dipakai dan bermanfaat buat kemaslahatan petani. Seperti halnya waktu awal 2019, kami Koperasi ALKO di kaki Gunung Kerinci dikenalkan dengan kota teknologi blockchain yang asing sekali dan masih melihat dari sisi ketidaktahuan, hingga datangnya tim dari Jepang sebagai salah satu pengembang blockchain terbesar di dunia saat itu yang memberikan edukasi free kepada kami hingga beberapa bulan. Hanya karena satu proposal Koperasi ALKO yang ingin berinovasi tentang traceability untuk kopi. Namun proposal itu disambut dengan menghadirkan satu teknologi kekinian bernama traceability blockchain untuk kopi di pelosok desa area kaki gunung Kerinci.Penjelasan yang sangat sederhana dan edukatif dari para ahli teknologi Negeri Sakura saat itu kepada kita para petani yang hanya lulusan sekolah menengah di desa, tentang bagaimana cara kerja blockchain dalam jaringan.Sesi dimulai dalam satu ruangan santai dengan satu laptop dan proyektor menyorot ke dinding;Lalu kami mulai bertanya, apa itu blockchain?Dengan menjadikan Koperasi ALKO sebagai analogi sederhana mereka menjelaskan: "Seperti halnya koperasi Anda yang memiliki catatan kegiatan atau keuangan harian untuk simpanan pokok dan wajib, untuk mencatat uang masuk dan keluar, atau catatan kegiatan arisan untuk 20 orang anggota Anda yang ditulis di sebuah buku besar, sama seperti itulah yang sebenarnya diisi di dalam blockchain menjadi buku besar digital yang real-time."Dalam eksositem blockchain 20 anggota memegang bukunya masing-masing secara real-time yang biasanya hanya dipegang bendahara saja, dengan jaringan blockchain ini semua memegang salinan bukunya. Jadi kalau satu orang mau merubah, mengotak-atik angka, misal bendaharanya, langsung ketahuan karena menjadi tidak sama dengan catatan digital di 19 anggota lainnya. Catatan yang tersebar itu disebut node oleh mereka. Paling tidak data jadi aman, karena kalau mau membobol atau merubah harus membobol 19 catatan (node) lainnya. "Kebayang kan, kalau Koperasi ALKO sekarang anggotanya 42 ribu, harus bobol 42 ribu buku..." Mulai kepikiran logisnya oleh kita cara kerja sederhana blockchain. Jadi akan terlihat gerakan satu orang oleh 19 lainnya dalam sistem, apakah ini anomali atau normal. Jika ada anomali semua bisa saling cross-check. Sesederhana itu teknologi ini membantu memvalidasi. Peran Koperasi ALKO sebagai pelaku kopi sekaligus koperasi yang mendampingi banyak petani, teknologi ini menjadi penting untuk mengangkat nilai transparansi hingga tingkat petaninya. Katanya meraka team Jepang sih sederhana, tapi kami sebenarnya masih bingung.Berlanjut ke pertanyaan lagi, Bagaimana cara kerja blockchain?Mereka kembali menerangkan tapi agak teknis, harus coret-coret di kertas dan layar proyektor. Dan masih tersimpan rapi rekaman itu di arsip Koperasi ALKO. Mereka bilang: jika ada transaksi akan dicatat dalam satu blok atau satu lembar halaman, bentuknya digital sebagai wadah. Satu transaksi diberi kode unik kriptografi sebagai pengikat, satu kode satu transaksi. Seperti kita belanja di supermarket, kita dapat resi dan ada nomor resinya, nomor resi itu yang dikriptografikan atau dijadikan nomor unik yang hanya ada satu selamanya, seperti fingerprint atau seperti NIK KTP yang hanya punya satu untuk setiap orang.Walau belum sepenuhnya paham, lalu pertanyaan kami selanjutnya: apa itu kriptografi dan apa bedanya dengan crypto koin?Penjelasan ini agak panjang, tapi secara pelan mereka menjelaskan lalu kita translate pakai bahasa kampung petani. Jadi cerita dalam tulisan ini adalah versi bagaimana kami menangkap info mereka secara langsung, karena mereka menggunakan bahasa Inggris, kami dengan kemampuan dengar bahasa Inggris yang pas-pasan mencoba dengan keras untuk paham. Yang akhirnya diskusi ini harus berulang hingga 6 hari mereka stay di Kerinci di salah satu Guest House Pelangi yang jadi markas dan dimiliki Koperasi ALKO. Oke, lanjutan ke tema, mereka menjelaskan kembali: jadi blockchain itu adalah jaringan atau rumahnya dan setiap rumah ini memiliki produk. Jadi bisa dibilang crypto ini adalah produknya blockchain yang memiliki peran sebagai mata uang. Produk lainnya ada namanya smart contract, produk lainnya ada NFT atau bahasa sederhananya untuk memberikan label unik dalam setiap barang atau aset. Produk seterusnya ada traceability atau penelusuran.Tambah penasaran kita, tanya lagi, Coba jelaskan secara singkat 4 produk ini dan seperti apa real-nya?Sepertinya mereka tambah serius, kami juga, dan sambil menyeruput kopi Kerinci yang sudah mulai terkenal enaknya sejak 2017, kami kembali fokus mendengar. Dia melanjutkan: kalau Anda membeli pulsa Handphone rp.50 ribu, Anda dapat apa? Dia bertanya. Ya, kita jawab dapat data. Dia jelaskan kamu dapat data dengan satuan byte, itu mata uang pulsa namanya. Dan di blockchain itu crypto dengan satuan hash. Anda beli pulsa dapat byte dan Anda beli crypto dapatnya hash. Kalau pulsa habis Anda top up, begitu juga kalau koin crypto Anda habis juga top up, untuk kasus traceability ini begitu sederhananya. Mata uang dalam blockchain saat itu dijelaskan ada Bitcoin, Ethereum, dan Cardano, ya salah satu punya mereka.Kita mulai makin mengerti sedikit, tanya lagi kita, Oke, coba jelaskan 3 produk lainnya seperti apa?Fungsi crypto sebagai mata uang jaringan blockchain. Kalau smart contract ini isinya kesepakatan yang ditulis jadi kode dalam pemrograman, sehingga jika satu orang ingin ikut dalam kontrak kerja itu, maka jaringan akan memvalidasi dan saling terkoneksi juga saling mengamankan. Contohnya aplikasi transportasi, sebut saja Goj*k, smart contract telah tersedia dalam aplikasi sehingga jalurnya terikuti dan para pihak wajib ikut aturan itu karena berdasarkan kebutuhannya. Contoh: saya butuh perjalanan ke bandara dari titik A dengan biaya rp.100 ribu, saya setuju cari mobil, lalu sistem akan mencari kebutuhan itu dalam jaringannya, lalu didapat satu kendaraan yang ambil kontrak itu, maka terjadi transaksi jasa transportasi dari titik A ke bandara yang sebelumnya tanpa kenal namun terpercaya karena adanya smart contract itu. Yang menjalankan smart contract ini adalah blockchain. Dan prinsipnya transparan: harga, jarak, dan rating driver-nya. Di sini kami sedikit paham dan terbayang jika ini diterapkan di supply chain kopi kita, maka ini bisa menjadi akses perdagangan hulu dan hilir. Dan melalui aplikasi http://QThinkX.io yang koperasi buat, telah memiliki menu ini sehingga petani terkoneksi dengan end user. Oke, dia melanjutkan: Jika terjadi wanprestasi, penumpang turun di jalan, maka supir akan tetap berjalan sampai ke titik kontrak yaitu bandara, karena jika tidak maka buku besar akan mencatat ada cacat kontrak dan bisa dilihat oleh 20 orang atau 42 ribu anggota koperasi. Jadi sistem ini akan menuntut komitmen. Sampai disni kebayang oleh kami bisa jadi jawaban buat problem di pertanian yaitu inkonsistensi produksi dan inkonsistensi kualitas, skema blockchain seolah memberi jawaban dipoin mana yang perlu diperbaiki atas dua problem petanian tadi jadi bisa segera diverifikasi dan dicari prioriti solusinya. Oke, good news.Kita lanjut lagi, Oke, bagaimana kalau yang NFT dan Traceability?Ternyata kita harus bergeser ke dalam dari area luar karena hujan, Kerinci kan banyak musim hujan, dan kami 7 (tujuh) orang anak kampung yang penasaran soal blockchain terus bertanya dan tambah penasaran. Mereka melanjutkan: NFT itu semacam pengkodean unik terhadap satu produk sehingga itu bisa jadi aset atau jadi milik yang tidak bisa digandakan orang lain. Misal KTP itu kan kode unik yang hanya milik satu orang, itu di-blockchain-kan maka akan terbaca itu punya seorang walau memakai interface apapun. Nah kami ada pertanyaan sela karena ada istilah baru, apa itu interface?. Interface itu hanya tampilan aplikasi untuk membukanya, itu bisa apa saja, bisa berbasis website biasa atau aplikasi yang di-download di Play Store katanya. Seperti BNI Mobile Banking (sekarang wondr by BNI), lalu BRImo atau lainnya itu interface namanya. Dengan blockchain walau memasukkan data lewat semua interface yang berbeda maka bisa terkoneksi dan dilihat kode hash-nya tadi dan akan terkoneksi dengan mudah. Ke depan akan tumbuh seperti itu (Waktu itu masih Web 2, sekarang blockchain Web 3 dan kedepan akan ada Web 4 yang lebih ke sinkronisasi blockchain. Jadi prediksi Web 4 sudah mereka sebut ditahun 2019 itu). Terkoneksi dengan mudah antar data dan saling melengkapi. Misalnya kalau data kita di aplikasi A tidak ada data TGL PRODUKSI dan di Aplikasi B ada data TGL PRODUKSI, maka data itu akan saling melengkapi end-to-end encryption, seperti WA kita. Jadi kode unik akan mengunci itu mejadi data utuh dan real-time. Ini jadi makin terbayang oleh kita untuk di kopi sebagai origin asal-usul agar tidak pindah alamat kopinya, dengan memberikan kode unik setiap produksinya bahkan setiap pohon kopi bisa dikasih kode unik lalu akan tercatat detail. Saat ini baru hampir 1 jutaan pohon kopi yang telah diberi kode unik dalam ekosistem Koperasi ALKO. Tentu ke depannya harapannya bisa jadi aset kolateral petani dan harusnya petani tambah bangga dan sejahtera karena ia mendaftarkan kopinya per pohon menjadi aset produktif. Kayaknya tak hanya kopi, seperti halnya tulisan atau buku atau produk karya homemade lainya bisa di-blockchain-kan agar nanti tidak diklaim sama orang lain. Teman-teman jadi liar mikirnya sampai semua mau di-blockchain-kan. Oke, ayo balik fokus ke kopi Koperasi ALKO dan aplikasi traceability QThinkX.io karya anak kampung untuk negeri ini.Lanjut ke pertanyaan sela, gimana keamanannya?Katanya dalam blockchain ada sistem keamanannya yang cukup ketat dan valid. Jadi dengan adanya node buku blok tadi, lalu diikat oleh hash kriptografinya, lalu data yang kemudian tersebar atau desentralisasi ke user atau jaringan, serta dibutuhkannya kesepakatan bersama atau konsensus saat menjalankan kontrak. Empat prinsip inilah yang menjadi kunci keamanan sistem ini. Ya, kita agak bingung dengan penjelasan itu, tapi lain kali dibahas karena sudah teknis sekali. Sesi ini cocok dibedah di kelas-kelas atau kampus.Yang kami catat keamanannya, secara real case-nya misal untuk melacak suatu produk asli memang dari pabrik atau tidak, melihat suatu produk itu halal diprosesnya atau tidak, untuk mengamankan data KTP kita supaya tidak dipalsukan, bahkan untuk bisnis yang pencatatan kontraknya dengan digital. Juga untuk melacak logistik, atau mengawasi aman tidaknya barang kopi kita dalam perjalanannya yang kiriman mulai dari sumber barang sampai ke tujuan dan tidak berubah tujuan.Banyak lagi hal teknis yang tidak semua masuk di ingatan kami, seperti bagaimana jika internet mati, bagaimana kaitannya dengan listrik, yang mereka telah jelaskan tapi kayaknya otak kita petani tidak sampai menangkapnya. Poinnya bagi petani adalah benefit-nya dan dampak jangka panjang untuk keberlanjutan pertaniannya, that is the point.Lanjut ke pertanyaan lagi, bagaimana dengan traceability, gimana penerapannya, apakah sudah ada contoh secara real?Kami petani itu khas, tanyanya yang sudah direalisasikan seperti apa, agar mudah mencontoh dan menerapkannya. Kalau dijelaskan dengan bahasa akademis bertele-tele yang ada kami tidur pulas seperti mendengar radio dan musik Sheila On 7. Sudah sore, hampir seharian penuh diskusi mereka ke kita ini seperti sudah 3 SKS. Mereka melanjutkan: Produk blockchain seperti traceability itu sudah dipakai juga seperti di Facebook, IG, dan YouTube. Misal Anda meng-upload satu lagu di medsos, katakan lagunya Iwan Fals, setelah beberapa jam lagu Anda hilang suaranya. Itu terjadi karena Anda kena copyright dari penciptanya, kalian tidak dapat izin maka di-banned status Anda. Pertanyaannya, siapa yang melakukan validasi itu? Yang melakukan adalah teknologi ketelusuran blockchain. Oh, jadi paham kita. Andai kopi kita di-traceability-kan maka asal-usul dan branding akan tetap terjaga.Banyak cerita yang tidak semua kita tulis di sini secara detail karena ada suasana emosional yang sulit menemukan padanan kata, bagaimana semangat kami ingin membuat ini mendapatkan satu titik terang untuk mewujudkannya, karena ini bicara inovasi teknologi di dunia pertanian. Ide yang datang dari pelosok desa ujung gunung di kaki Kerinci sana yang sulit dipercaya, bahkan oleh salah satu universitas ternama di Indonesia. Dan tanpa sengaja proposal dibaca oleh orang Negeri Sakura dengan nada yakin dia membalas email: "Dear Mr. Suryono Alko and team, we have read your proposal, and we see that it has great potential to discuss traceability for agricultural products in Indonesia, which has the obstacle that it is difficult to trace because the landscape is mountainous and access is still far. Our offer to you is a Blockchain-based technology to record the struggles of farmers in protecting forests while remaining productive and to avoid accusations of forest development. It's a technology that's still relatively new, but we're ready to visit you to introduce it. We hope this can be a solution for you to showcase transportation, all the supply chain actors in your ecosystem...." Setelah baca balasan email ini kita semua terdiam dan butuh banyak tisu juga menyeruput kopi.Koperasi ALKO dibangun oleh 7 (tujuh) anak muda Kerinci yang memiliki visi sama, teman satu sekolah SMP dan teman bermain kecil. Kerinci sebagai satu daerah penghasil komoditas kelas dunia, namun tak banyak yang muncul sebagai local champion apalagi memiliki akses langsung ke global, sehingga perlu terobosan. Latar belakang dari 7 (tujuh) orang yang berbeda: ada yang pedagang lokal, petani, ada yang TKI Negeri Sakura dan Negeri Jiran, dan ada yang guru. Saat berkumpul ternyata memiliki kesamaan visi, lalu berbagi pengalaman selama merantau. Hasil dari rantauan di luar negeri menjadi titik balik ide-ide itu tergabung dan menjadi satu dalam semangat filosofi koperasi yaitu ingin menjadi tuan di negeri sendiri.Aplikasi QThink-X traceability ini adalah hasil dari menjawab kesamaan visi tadi. Di bawah Koperasi ALKO, aplikasi QThink-X ( QThinkX.io / QThinkX.com) menjadi aplikasi traceanbility untuk hasil komoditas, sehingga kopi yang di produksi tak hanya bisa dilacak lokasi asal namun bisa tahu posisi kebun dan dapat memasatikan tidak dalam kawasan yang terlarang seperti lokasi hutan lindung atau taman nasional yang mesti di jaga bersama, dan hal ini bisa dilihar secara real-time oleh pembeli di seluruh benua bahwa kopi ramah lingkungan ada didepanya. Semua jenis komoditas petani bisa dibuat berbasis blockchain untuk transparansi supply chain dan value chain. Setiap petani di dunia sebagai pengguna digratiskan dalam memakainya, cukup daftar, divalidasi sistem, dan pakai dengan benefit akses pasar, akses harga komoditas real-time, akses terkoneksi, setiap petani dapat menampilkan story telling diblaik kopinya dari setiap kebun yang terbukti jauh dari deforestrasi dan memungkinkan akses pembiayaan serta mendapatkan apresiasi dari para penikmatnya. Aplikasi ini berbayar hanya untuk produsen atau eksportir atau pelaku hilir karena akan menjadi bagian added value produk mereka juga.Saatnya Petani Mesti Ber-Ekosistem.Bangga Jadi Petani.Ngopi ☕ pagiSuryono-Alko.